Dua tahun setengah barangkali waktu yang belum terlalu lama menurut ukuran membangun sebuah perusahaan konvensional.., umumnya memerlukan waktu 5 tahunan untuk mencapai kondisi yang bisa dikatakan mapan.., settle.., dengan mengecualikan perusahaan berplatform digital seperti yang sedang boom-boomnya saat ini..., kalo dirasa-rasa sungguh hati ini sangat iri dan sungguh kepingin kalo melihat anak-anak muda jaman sekarang yang dalam hitungan waktu sekejap bisa melambungkan bisnis start up-nya menjadi melejit..., tiba-tiba gede.., tiba-tiba menghasilkan uang banyak.., tiba-tiba menjadi menjadi perusahaan yang settle.., sungguh rasanya tiba-tiba badan ini terasa tua detik itu juga ketika melihat kiprah mereka.., jan ngedap-edapi tenan !!!
Mengawali tahun 2016, dipertengahan bulan dua tahun itu, dengan ucapan bismillah.., dengan modal kepercayaan dari seorang investor dan jaminan dari seorang teman yang rela menjaminkan dirinya untuk ikut mengawal berdirinya sebuah usaha kontraktor..., kontraktor telekomunikasi, usaha yang jika dilihat dari era waktu saat ini termasuk usaha konvensional karena lahir bersamaan dengan era lahirnya perusahaan digital..., ning yo wis ben-lah.. isane yo mung gawe sing model konvensional ngene iki kok...
Dan perusahaan baru itu namanya :
Usaha model konvensional begini sebetulnya gampang gampang susah.., gampangnya karena banyak model, pola dan contoh yang sudah ada.., masalahnya pun sebetulnya ya itu-itu saja..., kalo tidak masalah tim ya masalah cashflow.., meski banyak kejadian yang sering terdengar di bisnis model begini namun tidak urung banyak juga yang kejeblos dimasalah yang sama, sebetulnya bukanya mereka itu..., si perusahaan baru itu, tanpa antisipasi dan belajar dari case orang lain, namun terkadang memang kondisi yang ada begitu unik, yang mau tak mau keadaan atau masalah itu tak bisa terhindarkan.
Case bubarnya tim yang sudah susah payah dibangun.., yang biasanya memang sering terjadi di perusahaan yang baru mulai jalan dikarenakan memang system dan kemampuanya masih terbatas.., kadang ya terbatas budget alokasi untuk segala yang terkait dengan kekaryawananya tapi juga terkadang terbatas sumberdaya yang mengurusnya..., misal tentang tetek bengek legalitas kekaryawanan, tenaga kerja dengan seluruh aspek jaminan-jaminan yang menyertainya.., biasanya hal itu masih minim dan kadang bahkan belum bisa mengadakan, disinilah sering menjadikan deviasi antara harapan karyawan dan kenyataan kemampuan perusahaan yang menyebabkan turn over atau bahkan bubarnya tim karja yang telah terbangun.
Case lain yang tidak kalah sering adalah masalah gangguan putaran cash flow yang kurang baik karena molornya pembayaran dari pemberi kerja, tertipu, atau karena terlalu ketatnya perencanaan cash flow misalnya.., sebetulnya ketatnya perencanaan cash flow itu baik untuk perusahaan yang masih baru karena dengan perencanaan yang baik bisa mengefisienkan capital, artinya dengan pengaturan yang ketat menjadikan tidak memerlukan capital yang besar untuk menggerakan beberapa proyek sekaligus.., tapi ya itu.., ketika bertabrakan dengan kondisi tak terduga maka biasanya system gagal mendeteksi kejadianya.. dan langsung down karena tidak ada back-up.., lalu berikutnya yang terjadi adalah efek domino, molornya pelaksanaan satu proyek menyebabkan molor pula seluruh rencana budgeting nya, yang artinya juga berarti molornya penyelesaian proyek-proyek lain yang sedang dikerjakan saat itu.
Tapi memang dengan adanya kegagalan-kegagalan itu menjadikan pendewasaan, setiap orang yang terlibat dalam tim itu akan menjadi awas dan waspada pada kejadian-kejadian berikutnya.., ketika ke waspadaan itu menjadi bagian yang sudah nge-blend didalam system itu akan menjadikan sebuah instrumen penting bagi perkembangan berikutnya.., artinya mulai saat perusahaan itu sudah dilengkapi dengan risk managemen yang memang diperlukan dalam pertumbuhanya kelak.
Ada seni dan kepuasan tersendiri ketika tahap demi tahap dilalui dan menyaksikan terus berproses.., karena ternyata proses itulah yang akan melengkapi apa-apa yang diperlukan sebagaimana perkembangan seorang bayi yang secara terus menerus dilengkapi keperluanya selama proses berlangsung dalam pendewasaanya.., mulai tumbuh gigi ketika si bayi siap dengan asupan makanan yang lebih kasar, kemudian menguatnya kaki ketika badanya telah siap untuk berjalan.., maka sejatinya keseluruhan keadaan itu adalah bagian-bagian kecil yang terangkai dan terus menerus sambung menyambung dan akan terus berproses tanpa henti.., maka mensyukuri selama berjalanya proses itu dengan tetap menikmati setiap keadaanya adalah sebuah sikap menghargai diri sendiri dan juga itu berarti memberi reward sepantasnya untuk diri sendiri.., meski reward itu hanya dengan sebuah sikap menerima apa adanya.., apapun pencapaianya, itu juga merupakan reward yang special bagi diri sendiri, jangan memberi punishment berlebihan kepada diri sendiri dengan merasa gagal.
kita harus berdamai dengan diri kita sendiri...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar