Kembang ungu sumebar ing telenging ati
Werna ungu semu biru endah sinawang
Pralambang manah kingkin ginubel kapang
Siyang ratri tansah gumlibet lir wewayangan
Datan bisa kaslimur tansah ngreridhu
Kembang ungu mekar mekrok ing telenging ati
Netra bening blalak-blalak lir toya wening
Pasuryan endah sumorot lir cahyaning rembulan
Solahbawa rancak tumata sugih ing tata trapsila
Anjalari keprana trenyuh sengsem ing telenging ndriya
Kembang ungu.., sapa jenengmu ?
Sayekti datan sranti tengga tibaning wanci
Lumaris ing janji temya impen-impening ati
Ing pengangen- angenku...,
sliramu dak kanthi manjing ing taman sidomukti
Ing kono.., kababar wutahing rasa brangti
Kembang ungu apa kang dadi wangsulanmu ?
(Dubin, 10Des17 / Sumuk ora sida udan)
Minggu, 10 Desember 2017
Selasa, 05 Desember 2017
Liwung
Wewangun swasana purwakaning ratri
Ing antawis tabuh wolu dalu
Kapiyarsi titir kenthong dara muluk
Mratandhani warta tata raharja titi tentrem
Katingal remeng-remeng mendhung ing sisih kidul kilen
nggembuleng ireng lelimengan ing awiyat
Prasasat kaya-kaya nedya ngemuli bumi
Pratandha toya caraca badhe tedhun prapti
Kadyadene rasa pangrasa kawula
Ginubel rasa liwung ndedet lelimengan
Lir benang lawe mbundet buntet
Ical dalan keblasuk margi wangsul
Kinunjara pitakon datan pinanggih ing wangsulan
Wonten pundhi papan dunung susuhing angin ?
Saking pundhi asal dumuginipun geni ?
(Dubin,27 Nov 17 # Arep udan)
Rabu, 27 September 2017
Melik nggendong lali
Melik nggendong lali..., kata Melik secara harfiah artinya keingianan yang menggebu-gebu untuk memiliki apa yang dimiliki orang lain atau pendeknya adalah sebuah sifat serakah terhadap hak milik orang lain, sedangkan Nggendong lali secara harfiah artinya membawa lupa atau membawa ke-alpha-an atau menurut saya lebih pasnya adalah membawa kekhilafan, jadi arti secara kalimat berarti sifat serakah dan keinginan memiliki hak orang lain yang biasanya membawa pula kekhilafan didalamnya.
Bisa dikatakan kedua sifat tersebut jika hadir dalam satu paket maka menjadi sebuah sifat yang saling melengkapi daya rusaknya terhadap moral jiwa manusia karena sebuah keserakahan dan dilengkapi sebuah kekhilafan maka hampir bisa dikatakan semua aturan pasti akan ditabrak dan berbagai petuah kata bijaksana hanya akan dianggap sebagai suara tawon yang berisik dan sedikitpun tidak akan disinggahkan di celah-celah gendang telinganya, obyek keserakahan yang paling sexy kalo tidak soal harta ya kekuasaan.., memang dua hal itu yang menjadi kutukan bagi umat manusia.
Para bijaksana jawa jaman dahulu telah mewariskan kata-kata bijak sebagai pegangan yang jika direnungkan akan menjadi semacam pangeling-eling (sesuatu untuk di-ingat) berupa paduan kata ringkas yang mudah di-ingat, enak didengar serta gampang diucapkan dalam satu tarikan nafas..., melik nggendong lali.
Sungguh piawai para bijaksana jaman dahulu dalam meracik sebuah kalimat, padat tapi jika dijabarkan mampu mengisi setiap sisi-sisi perilaku dan lekuk batin manusia, bisa memenuhi nilai kebijaksanaan yang ingin dituju, maka sungguh naif kiranya jika nilai-nilai kebijaksanaan seperti ini apabila tidak diuri-uri sehingga bisa hilang muspro (musnah) ditelan peradaban luar yang memang lebih nge-pop, ngetrend dan membius namun dangkal dari makna-makna wulangreh jiwa (wulangreh = tuntunan, pendidikan).
Selasa, 26 September 2017
Ngopii yuk Pak...
Jaman sekarang idiom kalimat "ngopi duluuu..." atau sebuah status facebook tertayang foto secangkir kopi dengan background sebuah cofee shop kemudian ada tambahan status "ngopi dulu gaes" jamak tersebar di timeline di sekitar jam-jam sehabis ashar dan agar lebih menambah kesan suasana nyantai biasanya di samping cangkir kopi diletakan sebungkus rokok sampurna mild sebagai gong-nya..., deskripsi baru tentang keindahan pemandangan di jaman cafee shop ini.
Jika dahulu foto duduk tepi dipantai dengan pemandangan pasir dan ombak adalah sebuah deskripsi tentang sebuah kesan sedang nyantai.., sekarang telah tergeser oleh gambar secangkir kopi lengkap backgroundnya tersebut.
Adalagi suasana yang dapat dideskripsikan oleh kopi yaitu sebuah keakraban..., sebuah suasana yang sangat diharapkan dalam sebuah hubungan, maka secangkir kopi bermetamorfosa menjadi icon yang dapat mewakili sebuah keakraban, bahkan untuk tujuan itu pula bagi seorang yang ingin lebih dekat atau lebih akrab dengan seorang kenalan atau relasi bisnis baru ungkapan "ngopii yuk Pak..." adalah sebuah ungkapan semacam sebagai ice breaking dalam sebuah hubungan yang masih berjarak, yang masih kaku..
maka jika ada sebuah ajakan ngopii yuk pakk itu terdengar, meski tidak selalu tapi tidak salah jika dikatakan itu adalah bentuk halus dari kata " Gimana.., ada proyek tidak Boss..???"
Dubin 09.07 PM
Sabtu, 23 September 2017
Selilit Pikiran
Keinginan atau cita-cita biarpun itu hanyalah sebuah keinginan sepele bahkan remeh temeh namun jika belum terwujud akan menjadi gandholan pikiran yang akan selalu akan mengusik setiap waktunya, layaknya sehabis makan jamuan daging panggang di sebuah pesta pantai dan setelahnya terasa ada sesuatu yang nyangkut di gigi..., selilit sebutan-nya..., sesuatu yang kecil dan tidak seberapa tapi cukup mengusik perasaan, cukup mengganggu meskipun tidak sampai pada level menyiksa.
Demikian juga dengan selilit pikiran ini meski ini terasa selalu mengusik dan selalu mengisi ruang angan angan adakalanya selilit pikiran ini malah menjadi semacam pengisi pikiran karena banyak orang bilang jika tidak ada sesuatu yang dijadikan obyek pikiran hari-hari akan terasa nglangut misalkan bagi seseorang yang telah purna tugas, maka sering kita dengar seseorang mencari suatu yang bisa menyibukan pikiran mereka seperti sebuah hobi misalnya..., atau sebuah kegiatan semacam mengikuti sebuah kegiatan tertentu..., misalnya klub mancing, klub sepedaan bahkan ada lho sebuah klub yang kegiatanya hanya sekedar kumpul ngopi.., jadi teringat pernah membaca sebuah buku novel karya Umar Kayam berjudul Para Priyayi yang merupakan novel terdiri atas 2 seri buku, seri pertama berjudul "Para Priyayi" dan seri kedua berjudul "Jalan Menikung", membaca kedua novel tersebut sungguh bisa terbawa pada setting dan alur ceritanya karena disamping memang sangat baik dalam alur dan penuturanya juga setting nama-nama lokasinya memang saya mengenal tempat-tempatnya, setting lokasi cerita di daerah ngawi...., tidak jauh dari tempat saya tumbuh di pinggiran kota Sragen..., saya tidak akan me-resensi atau menceritakan isi novel tersebut namun dalam alur cerita disitu ada yang cocok dengan pembahasan dalam tulisan ngudo roso (sambung rasa) ini yaitu pada alur cerita tokoh sentral dalam novel itu yaitu Ndoro Sastro Darsono yang seorang pensiunan guru, untuk mengisi hari-hari pensiunya setiap pagi subuh beliau selalu jalan-jalan untuk kumpul dengan sesama priyayi pensiunan didaerahnya yang mempunyai titik kumpul disebuah alun alun dibawah pohon beringin..., hanya sekedar kumpul untuk cerita ini itu, dan meski kadang ceritanya berulang itu itu saja.., namun saat waktu beranjak terang meraka akan pulang ke rumah masing masing untuk minum teh pagi, mereka akan selalu janjian untuk kumpul kembali esok hari di waktu yang sama..., intinya beliau para bendoro itu berusaha mengisi kekosongan pikiran dengan mencari kegiatan yang terkadang bisa memicu adanya selilit pikiran...., memberi sebuah PR bagi pikiran agar terus menanti datangnya esok untuk menuntaskan apa yang menjadi PR pikiran itu.
Demikian pula dengan apa yang ingin saya sampaikan dalan tulisan ini bahwa terkadang kita perlu juga untuk memelihara selilit pikiran itu..., bahkan jika saat ini belum punya selilit pikiran, ada baiknya untuk memancingnya agar pikiran mempunyai selilit.., mempunyai PR.., misalnya dengan memikirkan sesuatu yang disenangi yang belum kelakon.. (terlaksana), belum kesampaian..., yang remeh-remeh saja tidak apa-apa..., biarkan rasa penasaran, rasa pengarep arep (penantian) itu menggelayuti pikiran kita, itu terkadang bisa menjadi pemicu semangat baru, antusiasme baru yang selalu menanti untuk dituntaskan..., tapi yang penting terus hal itu jangan menjadikan pikiran menjadi mbentoyong dan ngoyo.. (dipikiran menjadi berat karena terlalu berfokus untuk mencapai) apalagi kalo pakai target-target seperti para pemuja grafik dan angka-angka.., wah kalo sampai seperti itu sih berarti sudah selenco (menyimpang) dari tujuanya.., tujuan dari selilit pikiraan ini untuk memberi semangat antusias dan membumbui pikiran dengan sesuatu yang membuat greget hidup muncul dan terjaga.., itu tujuanya..
Seperti yang sudah saya jelaskan ndakik ndakik (berapi-api menerangkan) di atas, saya pun sedang membangun dan memelihara sebuah selilit pikiran yang menunggu-nunggu untuk dituntaskan.., yang sampai sekarang ini belum ketemu momen yang pas dan cocok.., kenapa harus menunggu nunggu momen yang pas ??, lho lha iya.., ini masalah menuntaskan hajat pikiran ya kalo bisa yang bisa terasa mak-plong.. mak-clesss.. sebagaimana rasa momen buka puasa atau momen saat hujan turun pertama setelah 6 bulan penuh panas kemarau mendera hari, yang sampai saat itu tiba, ada semacam rasa puas yang mencapai titik ultimate.., sebagaimana momen menerima amplop gaji pertama saat awal kita kerja..., wuiss rasanya kan luar biasa saat itu.., nha rasa itu yang ingin dihadirkan.
Nha apa sih selilit pikiran saya itu, sebetulnya sepele dan mudah untuk menuntaskan..., hanya sekedar ingin pulang kampung naik Vespa.., trengg...teng..teng...teng..., itu sajaa..
Jumat, 22 September 2017
Organsasi level "Perjuangan"
Layaknya negeri tercinta ini.., tempo dulu dalam masa perjuangan yang harus melalui masa-masa krisis, masa-masa sulit serba dalam kondisi prihatin dan terbatas, seakan sulit dibayangkan jika dilihat dari sudut masa kini, namun begitulah happy ending cerita negeri ini, semua penderitaan dibayar lunas oleh berkah nikmat kebebasan dari penjajahan..., sebuah kemerdekaan...
Demikian juga jika kita berbicara soal organisasi yang pada mulanya berada pada level perjuangan yang pada akhirnya menjadi pemenang di hari-hari kemudian, ini tidak mengherankan karena sesuatu yang masih berada pada level perjuangan biasanya mempunyai semangat yang lebih militan dan luar biasa tahan siksaan keadaan.
Namun banyak juga contoh sesuatu yang masih pejuangan yang karena tidak tahan terhadap siksaan keadaan akhirnya meleleh semangatnya, gembos militasinya.. dan kandas nasibnya..., ya memang tidak mudah melalui masa perjuangan itu, dibutuhkan setidaknya semangat yang membaja tidak kenal ciut hanya karena gertakan kondisi maupun tempaan keadaan yang kadang terasa sadis.
Organisasi yang mampu melewati masa perjuangan ini tentu layak mendapatkan applause dan layak ditiru effort yang telah mereka lakukan, tentulah ada formula umum yang bisa diambil untuk menjadi pelajaran bagi kita, setidaknya ada beberapa formula yang sama diantara mereka yaitu :
1. Visi
Meski mereka belum merumuskan visi misi secara tertulis layaknya organisasi mapan pada umumnya, biasanya mereka para anggota organsasi memiliki cita-cita bersama yang jelas namun tidak muluk-muluk, mereka menikmati kemajuan meski itu adalah kemajuan dalam tahapan-tahapan kecil, setiap tahapan mereka kembali mengecek searah atau tidaknya dengan cita-cita, mereka akan selalu me-maintaince visi mereka setiap saat.
2. Koordinasi teradaptasi
Tidak semua organisasi level perjuangan telah memiliki struktur organisasi yang lengkap dan jelas, tidak jarang anggota organisasi memiliki fungsi ganda atau berganti-ganti posisi sesuai keadaan yang diperlukan, tidak jarang seorang pemimpin organisasi harus mem-fotocopi sendiri atau bahkan merangkap menjadi kurir, itu sesuatu yang jamak dan lumrah bahkan barangkali itu menjadi salah satu kekuatan mereka, organisasi tidak terjebak oleh sekat-sekat birokrasi kaku, semua melakukan apa yang diperlukan saat itu untuk goal yang mereka telah tetapkan saat itu.
Namun meski terlihat tidak beraturan dan serabutan namun sebetulnya tetap terkoordinasi, karena semua bentuk ketidak beraturan tersebut telah dikomunikasikan di saat itu dan detik itu sehingga biasanya anggota organisasi terlatih dan teradaptasi menempati fungsi dan pos tertentu di waktu tertentu, mereka tida meributkan soal status dan posisi "siapa gue siapa elu".
3. Kecakapan kerja
Anggota organisasi rata-rata memiliki kecakapan kerja yang meskipun tidak tinggi namun mereka memiliki skill yang diperlukan oleh organisasi itu, anggota yang kurang memiliki skill atau tidak terbiasa dengan kondisi serabutan, biasanya tidak akan bisa bertahan lama dan ter-eliminasi oleh waktu terutama disaat-saat kondisi sedang sadis-sadisnya, yang selain memerlukan kekuatan skill juga kekuatan mental yang memang benar-benar tahan uji.
Dan tentu ada lebih banyak lagi detail-detail formula yang penting dan barangkali menentukan, namun secara umum poin-poin diatas dari sudut pandang saya adalah poin umum yang bisa saya sampaikan dalam uraian sekilas ini.
Monggo..., barangkali ada yang mau menambahkan poin-poin berikutnya dapat menuliskan dikolom komentar, anggaplah 3 poin diatas hanya sebagai pancingan buat sampeyan semua dalam menambahkan lagi poin formula organisasi level perjuangan dalam tulisan ini.
(Ciater, 22092017)
Langganan:
Postingan (Atom)
