Identitas menjadi bagian naluri dasar manusia sejak manusia menyematkan ego sebagai salah satu fitur didalam jiwanya, atas penyematan itu kemudian berkonsekuensi manusia jadi membutuhkan sebuah pengakuan identitas, membutuhkan penghargaan atas dirinya, yang kemudaian menjadi label-label harga baginya, label-label itu menjadi pembeda antara individu satu dengan individu manusia yang lain..,
Tuntutan pencarian label ini menjadikan seorang individu manusia berusaha menggali, mengais-ais keunikan dirinya, potensinya, kekuatanya untuk menjadi label tersanding disamping namanya, pencarian ini jika dilakukan dengan cara positif maka sesungguhnya menjadi hal yang sangat baik sekali, merangsang setiap individu mencari jatidiri dan keunikan dirinya dengan berkarya, berkreatifitas, menajamkan sisi-sisi uniknya yang menjadikan dirinya dikenal dan dilabel dengan hasil karya dan kekuatan unik dirinya..., menjadi sebuah prestasi..
Namun ada sisi lain dari konsekuensi pencarian label harga ini, ketika manusia gagal menemukan sisi uniknya, gagal menggali potensi dirinya, namun tuntutan memiliki label identitas dalam naluri dasarnya terus mendesak lewat sisi keingiananya, maka kemudian pencarian identitasnya dengan mencari label identitas-identitas lain dengan cara menyematkan, melabelkan diri sebagai bagian dari kelompok-kelompok sebagai label dirinya.., sesungguhnya adanya kelompok-kelompok, grup-grup atau apapun namanya itu adalah juga salah satu cara bagian dari pencarian identitas bagi jiwa..
Ketika kemudian secara sosial kelompok-kelompok itu diakui keberadaanya.., apapun bentuk pengakuanya.., inti tujuan berkelompok itu mendapat pengakuan dari individu lain atau kelompok lain.., individu yang kini telah tergabung dalam kelompok tersebut kemudian merasa telah memiliki identitas baru yang lebih membanggakan.., lebih bisa diandalkan sebagai label disamping namanya sendiri, bisa dibawa-bawa sebagai label dirinya.., maka ketika hal itu telah meresap dalam hati dan pikiranya bahwa dirinya terlabel dengan label kelompok tersebut seketika itu rasa fanatik baru saja terlahir dari rahim pikiranya.., semakin dirinya terayun oleh kebanggaan dengan label yang memabukan jiwanya itu semakin fanatik lah dia...
Dengan rasa fanatik yang kini telah menjadi bayi dalam alam pikiranya itu seluruh pembelaan akan diberikan.., porsi energi dan tenaganya jangan pernah meragukanya.., akan selalu tersedia energi dan curahan tenaga.., full.., harta dan bahkan nyawa satu-satunya bisa dia persembahkan untuk bayi kefanatikan dalam pikiranya itu.., namun yang lebih miris adalah bayi kefanatikan ini juga meminta persembahan kesehatan dan kewarasan pikiran si individu.., ini yang sering menjadi bencana karena ketika kewarasan pikiran ketika telah tertutup oleh kefanatikan maka bisa menjadi awal dari bencana kemanusiaan.., perang, pembunuhan dan kebengisan lainya terlahir dikarenakan kewarasan pikiran yang telah tergadai dimakan kefanatikan..
Sungguh sulit untuk menganalisa apa sesungguhnya alasan sehat yang bisa membenarkan kekejaman karena kefanatikan ini., dengan akal dan pikiran yang sehat bahkan meski hanya satu alasan saja kita sulit menemukanya.., tidak ada..,
Bagaimana mungkin manusia tega mencaci, memfitnah bahkan membunuh manusia lain hanya karena alasan identitas sebuah grup sepak bola.., pilihan politik.., atau tawur antar kampung.. ???
Apakah kemudian pedihnya cacian atau hilangnya satu jiwa itu sepadan dengan label identitas yang berhasil didapat ???


