Keinginan atau cita-cita biarpun itu hanyalah sebuah keinginan sepele bahkan remeh temeh namun jika belum terwujud akan menjadi gandholan pikiran yang akan selalu akan mengusik setiap waktunya, layaknya sehabis makan jamuan daging panggang di sebuah pesta pantai dan setelahnya terasa ada sesuatu yang nyangkut di gigi..., selilit sebutan-nya..., sesuatu yang kecil dan tidak seberapa tapi cukup mengusik perasaan, cukup mengganggu meskipun tidak sampai pada level menyiksa.
Demikian juga dengan selilit pikiran ini meski ini terasa selalu mengusik dan selalu mengisi ruang angan angan adakalanya selilit pikiran ini malah menjadi semacam pengisi pikiran karena banyak orang bilang jika tidak ada sesuatu yang dijadikan obyek pikiran hari-hari akan terasa nglangut misalkan bagi seseorang yang telah purna tugas, maka sering kita dengar seseorang mencari suatu yang bisa menyibukan pikiran mereka seperti sebuah hobi misalnya..., atau sebuah kegiatan semacam mengikuti sebuah kegiatan tertentu..., misalnya klub mancing, klub sepedaan bahkan ada lho sebuah klub yang kegiatanya hanya sekedar kumpul ngopi.., jadi teringat pernah membaca sebuah buku novel karya Umar Kayam berjudul Para Priyayi yang merupakan novel terdiri atas 2 seri buku, seri pertama berjudul "Para Priyayi" dan seri kedua berjudul "Jalan Menikung", membaca kedua novel tersebut sungguh bisa terbawa pada setting dan alur ceritanya karena disamping memang sangat baik dalam alur dan penuturanya juga setting nama-nama lokasinya memang saya mengenal tempat-tempatnya, setting lokasi cerita di daerah ngawi...., tidak jauh dari tempat saya tumbuh di pinggiran kota Sragen..., saya tidak akan me-resensi atau menceritakan isi novel tersebut namun dalam alur cerita disitu ada yang cocok dengan pembahasan dalam tulisan ngudo roso (sambung rasa) ini yaitu pada alur cerita tokoh sentral dalam novel itu yaitu Ndoro Sastro Darsono yang seorang pensiunan guru, untuk mengisi hari-hari pensiunya setiap pagi subuh beliau selalu jalan-jalan untuk kumpul dengan sesama priyayi pensiunan didaerahnya yang mempunyai titik kumpul disebuah alun alun dibawah pohon beringin..., hanya sekedar kumpul untuk cerita ini itu, dan meski kadang ceritanya berulang itu itu saja.., namun saat waktu beranjak terang meraka akan pulang ke rumah masing masing untuk minum teh pagi, mereka akan selalu janjian untuk kumpul kembali esok hari di waktu yang sama..., intinya beliau para bendoro itu berusaha mengisi kekosongan pikiran dengan mencari kegiatan yang terkadang bisa memicu adanya selilit pikiran...., memberi sebuah PR bagi pikiran agar terus menanti datangnya esok untuk menuntaskan apa yang menjadi PR pikiran itu.
Demikian pula dengan apa yang ingin saya sampaikan dalan tulisan ini bahwa terkadang kita perlu juga untuk memelihara selilit pikiran itu..., bahkan jika saat ini belum punya selilit pikiran, ada baiknya untuk memancingnya agar pikiran mempunyai selilit.., mempunyai PR.., misalnya dengan memikirkan sesuatu yang disenangi yang belum kelakon.. (terlaksana), belum kesampaian..., yang remeh-remeh saja tidak apa-apa..., biarkan rasa penasaran, rasa pengarep arep (penantian) itu menggelayuti pikiran kita, itu terkadang bisa menjadi pemicu semangat baru, antusiasme baru yang selalu menanti untuk dituntaskan..., tapi yang penting terus hal itu jangan menjadikan pikiran menjadi mbentoyong dan ngoyo.. (dipikiran menjadi berat karena terlalu berfokus untuk mencapai) apalagi kalo pakai target-target seperti para pemuja grafik dan angka-angka.., wah kalo sampai seperti itu sih berarti sudah selenco (menyimpang) dari tujuanya.., tujuan dari selilit pikiraan ini untuk memberi semangat antusias dan membumbui pikiran dengan sesuatu yang membuat greget hidup muncul dan terjaga.., itu tujuanya..
Seperti yang sudah saya jelaskan ndakik ndakik (berapi-api menerangkan) di atas, saya pun sedang membangun dan memelihara sebuah selilit pikiran yang menunggu-nunggu untuk dituntaskan.., yang sampai sekarang ini belum ketemu momen yang pas dan cocok.., kenapa harus menunggu nunggu momen yang pas ??, lho lha iya.., ini masalah menuntaskan hajat pikiran ya kalo bisa yang bisa terasa mak-plong.. mak-clesss.. sebagaimana rasa momen buka puasa atau momen saat hujan turun pertama setelah 6 bulan penuh panas kemarau mendera hari, yang sampai saat itu tiba, ada semacam rasa puas yang mencapai titik ultimate.., sebagaimana momen menerima amplop gaji pertama saat awal kita kerja..., wuiss rasanya kan luar biasa saat itu.., nha rasa itu yang ingin dihadirkan.
Nha apa sih selilit pikiran saya itu, sebetulnya sepele dan mudah untuk menuntaskan..., hanya sekedar ingin pulang kampung naik Vespa.., trengg...teng..teng...teng..., itu sajaa..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar